Mengejutkan! Dari Marbut Masjid, Ayah Ini Berhasil Antar 2 Anaknya Jadi Sarjana

Mengejutkan! Dari Marbut Masjid, Ayah Ini Berhasil Antar 2 Anaknya Jadi Sarjana

Menjelang waktu berbuka puasa, seorang pria tampak sibuk membersihkan dan merapikan setiap sudut Masjid Al-Lathiif di Bandung.

Mengejutkan! Dari Marbut Masjid, Ayah Ini Berhasil Antar 2 Anaknya Jadi Sarjana

Aktivitasnya terlihat sederhana, tetapi tanggung jawabnya tidak ringan. Selain menjaga kebersihan masjid, ia juga bertugas mengumandangkan azan lima waktu dan membantu berbagai kegiatan masjid. Kehadirannya menjadi bagian penting dari kelancaran aktivitas ibadah di tempat tersebut. Simak dan ikutin terus informasi terbaru dan terviral lainnya hanya ada di Berita dan Fakta dari Masyarakat.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Perjalanan Hidup Yang Penuh Tantangan

Sebelum menjadi marbut, Mumuh merantau ke Bandung pada dekade 1980-an. Ia memulai hidup baru dengan berjualan plastik, berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya. Usaha itu sempat berjalan lancar, namun perubahan ekonomi nasional membuat hidupnya tidak lagi mudah.

Krisis moneter pada tahun 1998 menjadi titik balik yang berat. Semua usaha yang dijalani bertahun-tahun harus ditinggalkan, dan Mumuh memilih bekerja sebagai pengumpul barang bekas bersama saudaranya. Pekerjaan ini penuh tantangan, namun menjadi jalan untuk tetap bertahan hidup.

Pengalaman pahit manis ini mengajarkan Mumuh tentang kesabaran dan ketekunan. Ia belajar untuk tetap tegar menghadapi kesulitan dan tetap bertanggung jawab terhadap keluarganya, walaupun kehidupan sehari-hari penuh tekanan dan ketidakpastian.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Memilih Jalan Yang Lebih Tenang

Kesempatan untuk menjadi marbut mulai terbuka saat Mumuh rutin menghadiri Masjid Al-Lathiif sebagai jemaah biasa. Awalnya, ia hanya membantu mengumandangkan azan setiap hari Jumat. Seiring berjalannya waktu, pengurus masjid dan ustaz setempat mulai mengajaknya terlibat lebih aktif dalam berbagai kegiatan masjid, mulai dari menjaga kebersihan hingga membantu persiapan acara keagamaan.

Meski penghasilan yang diterimanya sebagai marbut jauh lebih kecil dibandingkan pekerjaan lamanya, Mumuh merasakan ketenangan yang berbeda. Ia mulai menemukan makna dalam setiap aktivitas sehari-hari, dari mengumandangkan azan hingga memastikan lingkungan masjid tetap bersih dan rapi. Kehidupan spiritualnya semakin mendalam karena ia bisa menjalankan salat berjemaah tepat waktu dan ikut terlibat dalam kegiatan positif bagi jamaah.

Bagi Mumuh, menjadi marbut bukan hanya soal mencari nafkah, melainkan kesempatan untuk hidup lebih bermakna dan dekat dengan Sang Pencipta. Rutinitasnya di masjid memberinya kepuasan batin yang tak tergantikan, sekaligus menghadirkan kebahagiaan sederhana yang sebelumnya tidak ia rasakan dalam pekerjaan lamanya. Kehidupan yang tenang dan penuh makna ini menjadi sumber kekuatan bagi Mumuh untuk terus menjalani hari-harinya dengan ikhlas dan penuh syukur.

Baca Juga: Gempar! Ancaman Bagi Warga Gunung Karangetang Meletus 790 Kali

Perjuangan Menghidupi Keluarga

>Perjuangan Menghidupi Keluarga

Sebagai kepala keluarga, Mumuh menghadapi tanggung jawab besar. Istrinya tinggal di Purwakarta bersama ketiga anak mereka, sementara Mumuh bekerja di Bandung. Ia hanya bisa pulang seminggu sekali, sehingga komunikasi dan dukungan keluarga menjadi kunci untuk menjaga ikatan.

Meski terpisah jarak, Mumuh memastikan kebutuhan sehari-hari keluarga tetap terpenuhi. Ia bekerja keras dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Hasil perjuangan itu terlihat nyata: dua dari tiga anak perempuannya berhasil menamatkan pendidikan perguruan tinggi. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketekunan, doa, dan kerja keras dapat mengatasi keterbatasan ekonomi.

Inspirasi Dari Kesederhanaan

Keberhasilan Mumuh tidak diukur dari materi atau jabatan, tetapi dari kemampuan membimbing anak-anaknya menuju masa depan yang lebih baik. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan prestasi hidup.

Kisahnya juga mengingatkan kita bahwa nilai kesabaran, kerja keras, dan keikhlasan lebih penting daripada sekadar uang atau status. Mumuh membuktikan bahwa pengorbanan dan ketulusan dalam menjalani hidup dapat menghasilkan buah manis bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Bagi banyak orang, kisah Mumuh Muhtar menjadi sumber inspirasi. Dari seorang marbut sederhana, lahirlah perjuangan yang penuh makna, membuktikan bahwa ketekunan dan doa mampu membawa kehidupan menuju harapan dan masa depan yang lebih cerah.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari detik.com
  • Gambar Kedua dari detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *